Dampak Perang AS-Iran Selat Hormuz Ditutup, Industri Otomotif Dunia Terancam Lumpuh

Dampak Perang AS-Iran Selat Hormuz Ditutup, Industri Otomotif Dunia Terancam Lumpuh
Dampak Perang AS-Iran Selat Hormuz Ditutup, Industri Otomotif Dunia Terancam Lumpuh,Foto: Detik

WARTASULUH.COM- Dunia otomotif baru saja memasuki babak baru yang penuh kekacauan. Serangan mendadak yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada akhir Februari 2026 tidak hanya memicu ketegangan militer, tetapi juga menghancurkan stabilitas rantai pasok kendaraan global.

Penutupan Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran telah memaksa perusahaan pelayaran raksasa untuk menghentikan operasional mereka, menciptakan kemacetan logistik yang diprediksi akan berdampak hingga musim panas 2026. Bagi banyak orang, Selat Hormuz mungkin terasa jauh dari lini perakitan mobil di Jepang atau Brasil.

Namun, kenyataannya jalur sempit ini adalah urat nadi ekonomi industri. Selat ini mengelola sekitar 20 persen pasokan minyak harian dunia dan 22 persen ekspor gas alam cair (LNG) global. Gangguan pada jalur ini secara otomatis akan memukul biaya energi di pabrik-pabrik perakitan, pengecoran baja, hingga bengkel cat yang semuanya sangat bergantung pada stabilitas harga energi.

Analis ekonomi mulai menyuarakan alarm bahaya terkait lonjakan harga minyak mentah. Sebelum konflik pecah, minyak Brent berada di kisaran US$ 72 per barel, namun kini para ahli memproyeksikan angka tersebut akan segera menembus $80 bahkan melampaui US$ 100 jika konflik terus berlanjut.

Dikutip Automotive Manufacturing Solutions, Selasa (3/3/2026), Robert McNally, seorang analis energi terkemuka, memperingatkan dengan tegas, "Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan adalah jaminan terjadinya resesi global."

Dampak krisis ini juga menyasar komponen-komponen yang sering luput dari perhatian, seperti plastik dan karet. Sebuah mobil modern mengandung sekitar 150 hingga 200 kilogram komponen plastik yang bahan bakunya berasal dari petrokimia. Karena bahan-bahan ini dihargai berdasarkan patokan harga minyak mentah, biaya produksi untuk dasbor, bemper, hingga sistem kabel diprediksi akan naik antara 15 hingga 25%.

Hal ini tentu menjadi beban berat bagi produsen yang sudah kesulitan menjaga margin keuntungan.

Logistik laut juga menjadi mimpi buruk baru. Terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz memaksa kapal-kapal kontainer untuk memutar jauh melewati Tanjung Harapan di Afrika. Rute alternatif ini menambah waktu perjalanan sekitar 10 hingga 14 hari. Bagi industri otomotif yang menggunakan sistem produksi just-in-time (tepat waktu),

keterlambatan dua minggu berarti lini produksi bisa berhenti total karena stok suku cadang yang menipis di gudang.

Produsen mobil asal Asia, seperti Toyota, Hyundai, dan BYD, menjadi pihak yang paling rentan dalam krisis ini. Jepang, misalnya, mengimpor 90% minyak mentahnya dari wilayah Teluk, sementara Korea Selatan mengimpor sekitar 70%. Ketergantungan yang tinggi pada energi dari Timur Tengah membuat biaya operasional perusahaan otomotif raksasa di Asia membengkak secara drastis, yang pada akhirnya akan memaksa mereka menaikkan harga jual kendaraan kepada konsumen.

Industri mobil listrik (EV) yang dianggap sebagai masa depan juga tidak luput dari badai ini. Mineral baterai seperti litium dan kobalt membutuhkan energi yang sangat besar untuk ditambang dan dimurnikan. Selain itu, biaya pengiriman baterai yang sangat tergantung pada harga bahan bakar kapal akan ikut melonjak. Hal ini memperparah kondisi industri yang saat ini sedang melakukan reset besar-besaran terhadap investasi kendaraan listrik mereka.

Pada akhirnya, meskipun senjata mulai berhenti menyalak, dampak ekonominya tidak akan hilang dalam sekejap. Daniel Harrison, analis otomotif senior, mencatat bahwa krisis ini akan memicu tekanan inflasi yang menyebabkan suku bunga tetap tinggi dan biaya pinjaman modal semakin mahal.

“Kondisi ini justru akan membuat industri otomotif sangat tertekan,” jelasnya.