14 Titik Panas Menyala di Riau, 1 Hektare Gambut Terbakar di Air Hitam Pekanbaru, Manggala Agni Ingatkan Jangan Bakar Lahan

Sebanyak 14 titik panas (hotspot) menyala di Provinsi Riau, Update 8 Juli 2026 hingga pukul 23.00 WIB. Tim Manggala Agni Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Provinsi Riau, berjibaku padamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 1 ha lahan gambut di Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru

14 Titik Panas Menyala di Riau, 1 Hektare Gambut Terbakar di Air Hitam Pekanbaru, Manggala Agni Ingatkan Jangan Bakar Lahan
Sebanyak 14 titik panas (hotspot) menyala di Provinsi Riau, Update 8 Juli 2026 hingga pukul 23.00 WIB. Tim Manggala Agni Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Provinsi Riau, berjibaku padamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 1 ha lahan gambut di Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru. FOTO: Manggala Agni

WARTASULUH.COM, PEKANBARU - Sebanyak 14 titik panas (hotspot) menyala di Provinsi Riau, Update 8 Juli 2026 hingga pukul 23.00 WIB. Tim Manggala Agni Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Provinsi Riau, berjibaku padamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 1 ha lahan gambut di Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru, Rabu (8/7/2026).

Forecaster On Duty BMKG Stasiun Pekanbaru Mari Frystine, mengatakan, sebanyak 14 titik panas di Riau tersebar di Kabupaten Rokan Hilir 7 titik panas, Bengkalis 3 titik panas, Rokan Hulu 2 titik panas, Pelalawan dan Kota Pekanbaru masing-masing 1 titik panas.

"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera 293 titik panas yang tersebar di Provinsi Sumatera Utara 107 titik panas, Sumatera Selatan 58 titik panas, Aceh 23 titik panas, Kepulauan Bangka Belitung 30 titik panas, Lampung 24 titik panas, Riau dan Sumatera Barat masing-masing 14 titik panas, Jambi 8 titik panas, dan Bengkulu 5 titik panas," ungkap Mari Frystine, Kamis (9/7/2026).

Sementara itu, lahan dengan jenis tanah gambut seluas satu hektare terbakar di Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Payung Sekaki, KOta Pekanbaru pada Rabu (8/7/2026).

Hingga proses pemadaman berakhir pada sore hari, api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan sehingga penanganan masih terus dilakukan oleh tim gabungan.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan kebakaran terjadi di lahan areal penggunaan lain (APL) dengan jenis tanah gambut. Vegetasi yang terbakar didominasi pakisan, semak belukar, dan tanaman kelapa sawit.

"Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar satu hektare. Pada hari pertama penanganan, tim berhasil memadamkan sekitar 0,3 hektare, namun hingga sore hari status api masih belum padam sehingga proses pemadaman akan terus dilanjutkan," kata Ferdian.

Pemadaman melibatkan personel gabungan yang terdiri atas Manggala Agni Daops Sumatera IV/Pekanbaru, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, dan Polri.

Operasi pemadaman dimulai sekitar pukul 17.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 19.00 WIB. Tim menggunakan satu unit mesin pompa Mini Striker dengan pola satu jalur pemadaman untuk mengejar kepala api agar tidak meluas.

"Sumber air tersedia dari kanal yang berada tidak jauh dari lokasi kebakaran dengan lebar sekitar dua meter dan kedalaman satu meter. Meski demikian, karena kebakaran terjadi di lahan gambut dengan tipe kebakaran bawah permukaan dan permukaan, proses pemadaman menjadi lebih sulit sehingga membutuhkan penanganan lanjutan," ujar Ferdian.

Selain mesin pompa Mini Striker, tim juga mengerahkan satu unit mobil angkut Strada, satu unit mesin induk ZS Power, dua selang hisap, 13 selang buang, tiga nozzle, serta satu konektor Y untuk mendukung operasi pemadaman.

Berdasarkan kondisi lapangan, cuaca di lokasi didominasi cerah hingga cerah berawan dengan kecepatan angin sekitar 4 kilometer per jam. 

Meski kondisi angin relatif rendah, petugas tetap melakukan upaya maksimal agar api tidak merambat ke area yang lebih luas.

Ferdian menegaskan pihaknya bersama seluruh unsur yang terlibat akan terus melakukan pemadaman hingga api benar-benar padam.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Saat musim kering, api sangat mudah menyebar, terlebih pada lahan gambut. Pencegahan merupakan langkah paling efektif agar kebakaran tidak semakin meluas," tegasnya. 

Ferdian Krisnanto, mengatakan peningkatan nilai FFMC menjadi indikator penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat langkah antisipasi sebelum kebakaran meluas.

"Prediksi BMKG menunjukkan dalam satu minggu ke depan tingkat kemungkinan kejadian kebakaran di Sumatera meningkat. Ini menjadi peringatan bagi kita semua agar lebih waspada dan memperkuat upaya pencegahan sejak dini, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki lahan gambut," ujar Ferdian, Rabu (8/7/2026).

FFMC atau Fine Fuel Moisture Code merupakan indeks yang digunakan BMKG untuk menggambarkan tingkat kekeringan bahan bakar ringan di permukaan tanah.

Indikator tersebut dihitung berdasarkan parameter cuaca seperti suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, dan curah hujan.

Nilai FFMC menunjukkan tingkat kekeringan bahan-bahan ringan yang mudah terbakar, seperti humus permukaan, serasah daun kering, alang-alang, serta vegetasi lain yang berada pada lapisan tanah sedalam sekitar satu hingga dua sentimeter.

Semakin tinggi nilai FFMC, semakin mudah api menyala dan menjalar ketika terdapat sumber panas atau api.

Menurut Ferdian, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius karena kebakaran pada bahan bakar ringan dapat dengan cepat berkembang menjadi kebakaran lahan yang lebih luas, terutama di kawasan bergambut.

"Ketika bahan bakar ringan di permukaan sudah mengering, percikan api sekecil apa pun bisa memicu kebakaran. Apalagi jika terjadi di lahan gambut, api dapat merambat hingga ke bawah permukaan sehingga proses pemadamannya jauh lebih sulit," katanya. (shd)