Rupiah Diproyeksi Melemah hingga Rp18.000 pada Mei 2026

Rupiah Diproyeksi Melemah hingga Rp18.000 pada Mei 2026
Rupiah Diproyeksi Melemah hingga Rp18.000 pada Mei 2026, Foto: Kompas

WARTASULUH.COM- Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi, kurs rupiah berpotensi tembus hingga Rp18.000 per dolar AS pada bulan ini. 

Diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di laman resmi Bank Indonesia (BI) pada Sabtu, 16 Mei 2026 tercatat mencapai Rp17.601,57.

"Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp18.000 akan tembus. Seandainya Rp18.000 tembus di bulan Mei ini, ada kemungkinan besar rupiah akan menembus level Rp22.000," kata Ibrahim, dikutip dari Liputan6.

Menurutnya, melemahnya nilai tukar rupiah ini dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya bank sentral AS, The Fed yang berganti kepemimpinan hingga tensi geopolitik di Timur Tengah.

Kepemimpinan The Fed kini telah beralih dari Jerome Powell ke tangan Kevin Warsh. Sosok baru tersebut diprediksi bakal mempertahankan suku bunga acuan, imbas adanya kenaikan harga minyak yang berdampak terhadap inflasi.  

"Ini yang mengindikasikan bahwa mempertahankan suku bunga lebih tinggi lagi akan berdampak terhadap penguatan indeks dolar. Apalagi dibarengi dengan perang dagang nanti," kata Ibrahim.

Di sisi lain, ia juga menyoroti pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping. Pada kesempatan itu, orang nomor 1 China turut memperingatkan Negeri Paman Sam agar tetap menjaga stabilitas di Selat Taiwan.

Dari pertemuan ini juga terungkap, China masih ingin terus membeli minyak dari Iran. Alhasil, Negeri Tirai Bambu menawarkan diri untuk bantu menyelesaikan peperangan antara AS dan Iran. 

"Ini yang sebenarnya secara geopolitik, secara eksternal membuat dolar mengalami penguatan, harga minyak naik, rupiah melemah. Itu dari segi eksternal," imbuhnya.

Dari sisi internal, Ibrahim menyoroti Bank Indonesia yang sibuk melakukan intervensi pada rupiah di pasar internasional selama libur panjang Kenaikan Yesus Kristus.

Aksi tersebut dilakukan lantaran pasar di Indonesia tengah libur, membuat tekanan dari sisi eksternal menjadi sangat besar. Sehingga membuat transaksi valuta asing di pasar internasional begitu luar biasa dampaknya. 

"Dan, Bank Indonesia terus melakukan intervensi. Kita lihat rupiah Jumat pagi di Rp 17.600 lebih, dan sempat turun. Artinya Bank Indonesia benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional," tutur dia.