Stres Bikin Tekanan Darah Naik Ada Benarnya, Ini Penjelasan Pakar

Stres Bikin Tekanan Darah Naik Ada Benarnya, Ini Penjelasan Pakar
Stres Bikin Tekanan Darah Naik, Foto: BistroMD

WARTASULUH.COM- Stres kerap dianggap hanya berdampak pada kondisi mental. Padahal, efeknya bisa menjalar ke seluruh tubuh, termasuk memicu kenaikan tekanan darah.

Stres dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti kecemasan, pikiran yang berpacu, kabut otak, hingga sulit fokus. Banyak orang tidak sadar kalau kondisi ini bukan hanya persoalan psikologis, tetapi juga berdampak langsung pada sistem tubuh.

Hal ini berkaitan dengan respons fisiologis yang dikenal sebagai respons 'lawan atau lari'. Saat respons ini aktif, tubuh melepaskan hormon seperti adrenalin dan kortisol yang meningkatkan detak jantung, menyempitkan pembuluh darah, dan pada akhirnya menaikkan tekanan darah.

Dalam jangka panjang, aktivasi berulang dapat berdampak buruk pada kesehatan jantung.

"Tekanan darah tinggi, atau hipertensi, adalah kondisi medis di mana kekuatan darah yang mendorong dinding arteri selalu tinggi," jelas spesialis penyakit dalam dan gaya hidup di

Oregon Amerika Serikat, Dr Nneoma Oparaji.

"Sayangnya, tubuh tidak mengetahui perbedaan antara keadaan darurat yang sebenarnya dan kotak masuk yang penuh, sehingga tubuh merespons dengan melepaskan hormon stres yang sama yang meningkatkan tekanan darah," lanjutya yang dikutip dari Eating Well.

Selama ini, pengelolaan tekanan darah lebih sering dikaitkan dengan pola makan dan olahraga. Padahal, faktor stres juga punya peran besar yang kerap terabaikan.

Bagaimana Stres Mempengaruhi Tekanan Darah?

Baik karena pekerjaan bertekanan tinggi, paparan terus-menerus terhadap berita dan media sosial, maupun masalah hubungan, tubuh merespons stres dengan cara yang sama. Saat respons 'lawan atau lari' aktif, terjadi serangkaian efek kardiovaskular, seperti detak jantung meningkat, aliran darah dipercepat, pembuluh darah menyempit, dan tekanan darah pun naik.

Kondisi ini diibaratkan seperti air bertekanan tinggi yang dipaksa mengalir melalui selang sempit. Dampaknya bisa bersifat sementara maupun jangka panjang, tergantung jenis stresnya.

Secara umum, stres terbagi menjadi dua yaitu akut dan kronis. Stres akut bersifat jangka pendek, misalnya saat bertengkar atau menerima kabar buruk.

Sementara stres kronis berlangsung terus-menerus dalam waktu lama.

"Biasanya, begitu pemicu stres situasional [stres akut] hilang dan orang tersebut juga tidak lagi merasa stres karenanya, tekanan darah akan kembali ke tingkat normal sebelum pemicu stres tersebut," kata psikologis Erika Kawamura.

Namun, kondisi berbeda terjadi pada stres kronis. Stres yang berkepanjangan dapat membuat tekanan darah tetap tinggi dalam waktu lama.

"Stres kronis seringkali menyebabkan kondisi medis jangka panjang seperti hipertensi atau stroke," kata Dr Oparaji.

Kawamura menambahkan, meskipun stres akut juga bisa meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke, dampaknya tidak sebesar stres kronis.

"Dampaknya jauh lebih signifikan untuk stres kronis karena tubuh berada dalam mode 'lawan atau lari' yang konstan," ucapnya.

Lebih lanjut, stres kronis juga dapat mendorong seseorang melakukan kebiasaan tidak sehat.

"Ketika orang mengalami stres kronis, mereka mungkin lebih cenderung terlibat dalam mekanisme mengatasi stres yang tidak sehat seperti pola makan yang buruk, kurang olahraga, minum alkohol, atau merokok, yang semuanya dapat meningkatkan tekanan darah," kata Kawamura.

Meski begitu, stres akut juga tidak boleh dianggap sepele. Paparan stres berulang dapat memicu lonjakan tekanan darah sementara yang sering terjadi.

"Paparan stres berulang dapat menyebabkan lonjakan tekanan darah sementara yang sering terjadi, yang dapat berkontribusi pada variabilitas tekanan darah," kata Dr Oparaji.

"Variabilitas yang lebih tinggi telah dikaitkan dengan risiko kardiovaskular yang lebih besar."