Kualitas Udara Pekanbaru Tidak Sehat 13 Agustus 2026, 158 Titik Panas Menyala di Riau, Forkopimda Patroli Udara Karhutla

Kualitas Udara Pekanbaru Tidak Sehat pada 13 Agustus 2026 hingga pukul 06.00 WIB dengan Konsentrasi Partikulat (PM2.5) 70,3 µg/m³. Sebanyak 158 titik panas (Hotspot) menyala di Riau berdasarkan Info Hotspot Provinsi Riau update Rabu (12/8/2026) pukul 23.00 WIB.

Kualitas Udara Pekanbaru Tidak Sehat 13 Agustus 2026, 158 Titik Panas Menyala di Riau, Forkopimda Patroli Udara Karhutla
Kualitas Udara Pekanbaru Tidak Sehat pada 13 Agustus 2026 hingga pukul 06.00 WIB dengan Konsentrasi Partikulat (PM2.5) 70,3 µg/m³. Sebanyak 158 titik panas (Hotspot) menyala di Riau berdasarkan Info Hotspot Provinsi Riau update Rabu (12/8/2026) pukul 23.00 WIB. GRAFIS: BMKG

WARTASULUH.COM, PEKANBARU - Kualitas Udara Pekanbaru Tidak Sehat pada 13 Agustus 2026 hingga pukul 06.00 WIB dengan Konsentrasi Partikulat (PM2.5) 70,3 µg/m³. Sebanyak 158 titik panas (Hotspot) menyala di Riau berdasarkan Info Hotspot Provinsi Riau update Rabu (12/8/2026) pukul 23.00 WIB. Oleh karena itu, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Riau menggelar patroli udara guna mempercepat mitigasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Dikutip Wartasuluh.com dari laman Bmkg.go.id, Kamis (13/8/2026), Kualitas Udara Pekanbaru Tidak Sehat sejak pukul 00.00 WIB, Konsentrasi Partikulat di Pekanbaru 123,1 µg/m³, pukul 01.00 WIB sebesar 82,6 µg/m³, pukul 02.00 WIB sebesar 123,7 µg/m³, pukul 03.00 WIB sebesar 81,3 µg/m³, pukul 04.00 WIB sebesar 65 µg/m³ dan pukul 05.00 WIB sebesar 65 µg/m³.

Particulate Matter (PM2.5) adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari atau sama dengan 2,5 µm (mikrometer). 

Pengukuran konsentrasi PM2.5 menggunakan metode penyinaran sinar beta (Beta Attenuation Monitoring) dengan satuan mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Elisa Kedang, menjelaskan terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan kualitas udara menurun pada pagi hari, mulai dari akumulasi polutan hingga kondisi atmosfer yang kurang mendukung penyebaran polutan.

“Ya, data tersebut berdasarkan pengamatan alat di BMKG. Pada pagi tadi kondisi kualitas udara di kategori tidak sehat. Namun, ini tidak bisa disimpulkan karena kebakaran atau disebabkan oleh kebakaran,” ujar Elisa, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, kualitas udara yang menurun terjadi akibat akumulasi polutan di udara, transportasi polusi dari wilayah lain, serta kondisi atmosfer yang membuat polutan sulit terdispersi.

“Kondisi ini terjadi karena akumulasi polutan, transportasi polusi dari wilayah lain serta kondisi atmosfer yang kurang mendukung penyebaran polutan seperti angin yang lemah (calm) dan kelembaban tinggi,” jelasnya.

Elisa menegaskan kondisi tersebut bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer maupun sumber emisi di wilayah Pekanbaru dan sekitarnya.

Sementara itu, Forecaster On Duty BMKG Stasiun Pekanbaru Deby C, mengatakan, sebanyak 158 titik panas (hotspot) menyala di Riau, berdasarkan Update Info Hotspot Riau BMKG pada 12 Agustus 2026 pukul 23.00 WIB.

"Sebanyak 158 titik panas di Riau itu tersebar di Kabupaten Indragiri Hulu 36 titik panas, Bengkalis 35 titik panas, Indragiri Hilir 25 titik panas, Pelalawan 20 titik panas, Kuantan Singingi 10 titik panas, Rokan Hilir 8 titik panas, Rokan Hulu 7 titik panas, Siak 6 titik panas, Kampar 5 titik panas, Kepulauan Meranti 4 titik panas, dan Kota Dumai 2 titik panas," ungkap Deby C.

Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera 1.097 titik panas yang tersebar di Provinsi Sumatera Selatan 432 titik panas, Riau 158 titik panas, Jambi 157 titik panas, Lampung 121 titik panas, Kepulauan Bangka Belitung 84 titik panas, Kepulauan Riau 42 titik panas, Sumatera Barat 31 titik panas, Sumatera Utara 29 titik panas, Aceh 25 titik panas, dan Bengkulu 18 titik panas.

Oleh karena itu, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Riau menggelar patroli udara guna mempercepat mitigasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pada Rabu (12/8/2026). 
Langkah cepat ini diambil usai pemantauan aplikasi Dashboard Lancang Kuning (DLK) mencatat lonjakan signifikan jumlah titik panas di wilayah Riau.

Patroli lintas instansi tersebut diikuti oleh Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto, Kajati Riau I Dewa Gede Wirajana, Kepala BPBD Riau M. Edy Afrizal, dan Kapoksahli Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Brigjen TNI Muhammad Yahya. 

Kolaborasi tingkat pimpinan ini bertujuan memastikan penanganan titik api di lapangan berjalan secara taktis dan terukur.

Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan menginstruksikan jajaran kewilayahan untuk segera melakukan verifikasi langsung (ground check) ke titik koordinat. 

Langkah pengecekan lapangan diperlukan untuk memastikan keberadaan titik api aktif atau sekadar anomali panas di lokasi.

Irjen Herry Heryawan menegaskan bahwa tinjauan langsung dari udara sangat krusial untuk mengukur kesiapan personel dan peralatan pemadaman. 

Pihaknya bersama unsur Forkopimda menetapkan prioritas pemadaman agar Karhutla dapat diatasi secara cepat dan tepat.

Hingga periode 1 Januari-30 Juni 2026, jumlah lahan dilanda Karhutla seluas 15.477,95 hektare dengan pembagian 1.100,71 Ha kawasan hutan dan 14.377,24 hektare non hutan. (shd)