Indonesia Women's League Kick-off 17 Oktober 2026 di Stadion Soemantri Brodjonegoro, Diikuti 6 Klub dari Jabodetabek
Indonesia Women’s League (IWL) Kick-off 17 Oktober 2026 di Stadion Soemantri Brodjonegoro, Jakarta, diikuti 6 klub dari Jabodetabek yaitu Bekasi FC, Persikad Depok, Dewa United, Persija Jakarta, Persita Tangerang, dan Garuda Yaksa.
WARTASULUH.COM, JAKARTA - Indonesia Women’s League (IWL) Kick-off 17 Oktober 2026 di Stadion Soemantri Brodjonegoro, Jakarta, diikuti 6 klub dari Jabodetabek yaitu Bekasi FC, Persikad Depok, Dewa United, Persija Jakarta, Persita Tangerang, dan Garuda Yaksa.
Indonesia Women's League yang akan berlangsung dengan format pertandingan centralized stadium ini dipandang sebagai pembuka ruang karier profesional dan arena memperluas talent pool sepak bola putri Indonesia.
Pelatih sekaligus manajer Persikad Depok, Diego Tobing, menilai IWL sebagai momentum penting bagi perkembangan sepak bola putri.
Kompetisi perdana ini, menurutnya, menjadi tolok ukur baru untuk melihat kelayakan dan perkembangan pemain putri potensial.
“Dengan IWL, sudah pasti lebih menantang karena kompetisi pertama ini akan menjadi tolok ukur baru bagi kelayakan pemain-pemain putri potensial di masa depan,” ujar Diego, dikutip Wartasuluh.com, Kamis (13/8/2026).
Diego menilai model drafting yang memadukan pemain tim nasional dan non-tim nasional dalam satu klub sebagai langkah positif.
Skema ini diyakini memperkuat persaingan sehat sekaligus memperluas ruang belajar pemain muda. Pemain berusia 17–18 tahun, katanya, akan mendapat pengalaman berharga melalui kompetisi dan persaingan bersama pemain senior.
Dengan alokasi enam pemain tim nasional pada setiap klub, proses tumbuh bersama antara pemain berpengalaman dan pemain muda diharapkan semakin kuat.
Optimisme serupa disampaikan pemain Dewa United, Safira Ika Putri. Ia memandang IWL sebagai wadah profesional bagi pesepak bola putri untuk membangun karier di dalam negeri serta meningkatkan permainan dan kemampuan teknis.
“Senang sekarang ada wadah yang lebih profesional untuk berkarier di sepak bola di dalam negeri, sehingga kami bisa berkembang dari sisi permainan dan skill,” kata Safira.
Menurut Safira, kehadiran liga memberi dampak langsung terhadap kesiapan fisik pemain. Rangkaian persiapan hingga pertandingan akan membantu menjaga kebugaran.
Sementara sistem kontrak dipandang sebagai awal jaminan karier di sepak bola profesional. IWL juga membuka panggung bagi pemain muda untuk memperlihatkan bakat dan potensi.
“Terima kasih kepada Pak Erick Thohir, Bu Vivin, dan para Exco yang telah memperjuangkan ini,” ujar Safira.
Pemain Bekasi FC, Zahra Musdalifa, menyambut IWL dengan antusias, meski masih dalam pemulihan cedera dan berpotensi tampil pada putaran kedua.
Baginya, kompetisi ini mewujudkan harapan pemain putri untuk merasakan liga profesional setelah rencana kompetisi pada 2019 terkendala pandemi pada 2020.
“Meski masih enam klub dan bermain dengan model centralized, bagi saya it’s better than nothing. Ini membuat mimpi kami sebagai pemain profesional benar-benar menjadi kenyataan,” tutur Zahra.
Zahra memandang skema drafting sebagai pilihan tepat pada tahap awal IWL. Penyebaran pemain tim nasional ke beberapa klub, dengan masing-masing tim diperkuat enam pemain tim nasional, dinilai dapat mengurangi kesenjangan kekuatan.
Ia mengajak pemain non-tim nasional memanfaatkan kompetisi ini untuk membuktikan kualitas serta membuka jalan karier profesional.
Format terpusat dan keterlibatan enam klub diharapkan menjadi fondasi kompetisi putri nasional yang kompetitif dan berkelanjutan di Indonesia.
Langkah monumental ini menjadi bukti nyata komitmen PSSI era Erick Thohir yang menolak menjadikan sepak bola wanita sebagai anak tiri.
"Sepak bola wanita tidak pernah dinomorduakan oleh kepengurusan PSSI saat ini. Kita tidak ingin liga ini lahir hanya untuk pencitraan lalu mati di kemudian hari. Ini adalah komitmen jangka panjang, dibangun dengan kalkulasi matang agar ekosistem dan klub peserta bisa terus sustainable," ungkap Ketua Umum PSSI saat meluncurkan kompetisi sepak bola wanita perdana bertajuk Indonesia Women's League di kantor I League, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Komisaris PT Liga Indonesia Putri sekaligus Anggota Exco PSSI, Vivin Cahyani Sungkono, menyambut antusias momen bersejarah ini.
"Kami punya kerinduan yang sangat besar untuk menyelenggarakan Liga Putri secara konsisten. Pemain kita di seluruh Nusantara kini sedang bersukacita; mentalitas dan skills mereka akan terus diasah untuk menjadi pilar Timnas masa depan," ungkap Vivin.
Dukungan penuh juga mengalir dari operator kompetisi. Direktur Utama PT I League, Ferry Paulus, menegaskan kesiapan pihaknya untuk mengawal jalannya liga.
"Kami di I League berkomitmen penuh memastikan IWL berjalan profesional. Kami telah menyiapkan skema subsidi yang proporsional agar klub peserta dapat mengarungi kompetisi dengan sehat secara finansial," ujar Ferry.
Sementara itu, CEO Indonesia Women’s League, Teddy Tjahjono, memaparkan inovasi dalam penyelenggaraan IWL musim perdana ini.
"Kami menerapkan konsep sports festival yang menggabungkan pertandingan putri dengan beberapa modifikasi menarik. Sistem drafting pemain juga telah kami lakukan untuk memastikan pemerataan kekuatan di antara enam tim peserta, sehingga kompetisi berjalan kompetitif sejak hari pertama," jelas Teddy. (shd)
Lestari



