KKN Gumilang Gunem Tanam Pohon Beringin di Desa Demaan, Jaga Ketersediaan Air Saat Kemarau

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Gadjah Mada pada Periode 4 Tahun 2025 yang tergabung dalam Tim Gumilang Gunem melaksanakan penanaman pohon bersama Pemerintah Desa Demaan pada Sabtu (25/1/2026). Kegiatan ini dihadiri Kepala Desa Demaan, Sumarno, Kepala Dusun Wowo Becici, serta Ari, sosok petani setempat. 

KKN Gumilang Gunem Tanam Pohon Beringin di Desa Demaan, Jaga Ketersediaan Air Saat Kemarau
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Gadjah Mada pada Periode 4 Tahun 2025 yang tergabung dalam Tim Gumilang Gunem melaksanakan penanaman pohon bersama Pemerintah Desa Demaan pada Sabtu (25/1/2026). Kegiatan ini dihadiri Kepala Desa Demaan, Sumarno, Kepala Dusun Wowo Becici, serta Ari, sosok petani setempat. 

WARTASULUH.COM, REMBANG –Tak ada panggung, tak ada baliho besar. Hanya tanah yang dibuka perlahan, bibit yang diposisikan dengan hati-hati, dan tangan-tangan yang bekerja bersama. Di Desa Demaan, penanaman pohon beringin dan sejumlah tanaman lainnya menjadi penanda sederhana bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa dimulai dari langkah paling dasar: menanam—dan menahan air agar tidak pergi begitu saja.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Gadjah Mada pada Periode 4 Tahun 2025 yang tergabung dalam Tim Gumilang Gunem melaksanakan penanaman pohon bersama Pemerintah Desa Demaan pada Sabtu (25/1/2026). Kegiatan ini dihadiri Kepala Desa Demaan, Sumarno, Kepala Dusun Wowo Becici, serta Ari, sosok petani setempat. 

Delapan mahasiswa KKN terlibat langsung dalam proses penanaman secara gotong royong. Pak Sumarno, Kades Demaan merasa antusias dengan program-program KKN PPM UGM yang membersamai kegiatan desa. 

“Kami sangat terbantu sekali dengan kehadiran mahasiswa di desa kami. Tidak hanya kegiatan penanaman pohon ini, tetapi juga banyak kegiatan lain yang masyarakat rasakan manfaatnya. 

Bibit tanaman yang digunakan berasal dari Zenly Bright Rembang. Pohon beringin dipilih sebagai tanaman utama bukan semata karena ukuran dan keteduhannya, melainkan karena perannya sebagai parkir air alami. Sistem perakaran beringin yang dalam dan menyebar luas memungkinkan air hujan tertahan di dalam tanah, mengurangi limpasan permukaan, serta menjaga cadangan air tanah agar tidak cepat hilang.

Konsep parkir air ini menjadi penting bagi wilayah pedesaan yang menghadapi perubahan pola hujan. Dengan vegetasi yang tepat, air hujan dapat “diparkir” di dalam tanah—mengurangi risiko genangan di musim hujan sekaligus membantu menjaga ketersediaan air saat kemarau. Tanaman lain yang turut ditanam diharapkan memperkuat fungsi tersebut melalui sistem perakaran yang saling melengkapi.

Selama proses penanaman, Ari selaku petani setempat memberikan arahan teknis kepada mahasiswa. Ia memastikan kedalaman lubang tanam, posisi akar, serta penimbunan tanah dilakukan dengan benar agar tanaman dapat tumbuh optimal dan menjalankan fungsi ekologisnya. Pendampingan ini menjadikan kegiatan bukan sekadar kerja bakti, melainkan ruang belajar tentang hubungan antara tanah, air, dan vegetasi.

Koordinator Sub Unit Desa Demaan Tim KKN Gumilang Gunem, Ananda Shabrina Putri Gunawan, mengatakan kegiatan ini dirancang sebagai kontribusi konkret mahasiswa yang mempertimbangkan kebutuhan lingkungan desa. “Kami ingin tanaman yang ditanam tidak hanya tumbuh, tetapi juga bekerja—menyimpan air, menjaga tanah, dan mendukung keberlanjutan desa,” katanya.

Dukungan terhadap program ini juga disampaikan Dr. Sailal Arimi, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing Lapangan KKN Gumilang Gunem. Ia menilai pendekatan berbasis fungsi ekologis seperti parkir air mencerminkan perencanaan program KKN yang matang. 

“Mahasiswa tidak hanya menanam pohon, tetapi memahami konteks ekologis desa dan menjadikannya dasar perancangan program,” ujarnya.

Kegiatan penanaman pohon ini menjadi bagian dari rangkaian program kerja Tim KKN Gumilang Gunem yang berfokus pada pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di Kecamatan Gunem. Di akhir kegiatan, tak ada penanda resmi yang ditinggalkan. Hanya tanah yang kembali tertutup rapi, bibit yang berdiri tegak, dan air hujan yang kelak—perlahan—akan menemukan tempatnya untuk berhenti. (rls)