Khutbah Jumat: Mengapa Doa Belum Terkabul?
Apakah kita sudah hidup sejalan dengan doa-doa yang kita panjatkan? Jangan-jangan selama ini bukan Allah yang menjauhkan doa dari kita. Jangan-jangan justru kita sendirilah yang menyandera doa-doa itu melalui perilaku kita.
Khatib: Dr. Thobib Al Asyhar, M.Si
(Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag)
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ .قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa bukan hanya diwujudkan melalui kesungguhan dalam menjalankan ibadah ritual, tetapi juga melalui keselarasan antara apa yang kita ucapkan, apa yang kita mohonkan kepada Allah, dan apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, tidak sedikit orang yang lisannya dipenuhi doa, tetapi perilakunya justru menjauhkan dirinya dari terkabulnya doa tersebut.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam beberapa waktu terakhir, khatib mencermati sebuah potongan video pendek di media sosial yang menarik perhatian banyak orang. Seorang dokter sekaligus pegiat neurosains, Ryu Hasan, melontarkan pertanyaan yang sederhana, tetapi menggelisahkan. Ia bertanya, "Apakah doa-doa yang kita panjatkan selama ini benar-benar efektif? Sudah berapa kali Allah mengabulkan doa-doa kita?"
Terlepas dari siapa yang mengajukan pertanyaan itu, sesungguhnya pertanyaan tersebut layak menjadi bahan muhasabah bagi kita semua.
Bukankah hampir setiap selesai salat kita memohon agar Allah melapangkan rezeki kita?
Bukankah setiap hari kita berdoa agar diberi kesehatan, umur yang berkah, keluarga yang bahagia, usaha yang berhasil, anak-anak yang saleh dan salehah, bahkan husnul khatimah pada akhir kehidupan?
Namun mengapa sering kali kehidupan terasa berjalan di tempat?
Mengapa ada orang yang bertahun-tahun memohon rezeki, tetapi tetap merasa sempit?
Mengapa ada yang terus meminta kesehatan, tetapi tetap mengabaikan pola hidup sehat?
Mengapa ada yang setiap hari mendoakan anak-anaknya menjadi saleh, tetapi rumahnya sendiri miskin keteladanan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin pernah singgah dalam hati kita. Bahkan tidak sedikit orang yang kemudian bertanya, "Mengapa Allah belum juga mengabulkan doa-doaku?"
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah.
Sebelum kita menyalahkan keadaan, bahkan sebelum kita mempertanyakan mengapa Allah belum mengabulkan doa-doa kita, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih penting untuk kita ajukan kepada diri sendiri.
Apakah kita sudah hidup sejalan dengan doa-doa yang kita panjatkan? Jangan-jangan selama ini bukan Allah yang menjauhkan doa dari kita. Jangan-jangan justru kita sendirilah yang menyandera doa-doa itu melalui perilaku kita.
Kita meminta rezeki yang halal dan berkah, tetapi kita masih bermalas-malasan, kurang disiplin, atau bahkan tidak jujur dalam bekerja.
Kita memohon kesehatan, tetapi kita mengabaikan amanah tubuh yang Allah titipkan dengan pola hidup yang merusak.
Kita meminta anak-anak yang saleh dan salehah, tetapi lisan kita mudah marah, rumah kita miskin kasih sayang, dan anak-anak lebih banyak belajar dari perilaku kita daripada dari nasihat yang kita ucapkan.
Kita memohon masyarakat yang damai, tetapi kita sendiri mudah menyebarkan kebencian, fitnah, dan prasangka.
Lalu, bagaimana mungkin kita berharap doa-doa itu tumbuh subur apabila setiap hari kita sendiri yang mencabut akarnya?
Allah Swt. telah mengingatkan kita melalui firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd [13]: 11)
Ayat ini bukan semata-mata berbicara tentang perubahan sosial. Ayat ini juga mengajarkan bahwa perubahan hidup dimulai dari perubahan diri. Doa menjadi pintu harapan, tetapi perilaku adalah jalan menuju pengabulan harapan itu.
Karena itu, doa dan ikhtiar bukanlah dua hal yang saling menggantikan. Doa adalah ruh yang menghidupkan ikhtiar, sedangkan ikhtiar adalah bukti bahwa doa yang kita panjatkan benar-benar lahir dari kesungguhan hati.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai paradoks yang menarik.
Ada orang yang berdoa agar usahanya maju, tetapi enggan meningkatkan kualitas pekerjaannya.
Ada yang meminta keluarganya harmonis, tetapi lisannya lebih sering melukai daripada menenangkan.
Ada yang memohon dijauhkan dari utang, tetapi gaya hidupnya terus melampaui kemampuan.
Ada pula yang memohon agar Allah menjaga anak-anaknya dari pengaruh buruk zaman, tetapi dirinya sendiri lebih sibuk dengan telepon genggam daripada menemani pertumbuhan anak-anaknya.
Bukankah semua itu menunjukkan bahwa sering kali kita meminta sesuatu kepada Allah, tetapi tidak sungguh-sungguh menyiapkan diri untuk menerimanya?
Maka, jangan-jangan yang menjadi penghalang terkabulnya doa bukanlah jauhnya rahmat Allah, melainkan dekatnya kita dengan kebiasaan-kebiasaan yang bertentangan dengan doa-doa kita sendiri.
Inilah yang oleh khatib sebut sebagai "doa-doa yang tersandera oleh perilaku."
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa doa bukanlah sekadar rangkaian kalimat yang diucapkan dengan lisan. Doa adalah cerminan isi hati, arah hidup, sekaligus komitmen untuk memperbaiki diri. Ketika kita memohon rezeki, kita pun harus menjemputnya dengan kerja keras dan kejujuran. Ketika kita memohon kesehatan, kita pun wajib menjaga tubuh yang Allah titipkan. Ketika kita memohon anak-anak yang saleh dan salehah, kita pun harus terlebih dahulu menjadi orang tua yang saleh dan menjadi teladan bagi mereka.
Karena itu, jangan pernah berhenti berdoa. Sebab berdoa adalah ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah Swt. Firman-Nya:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
"Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan hina.'" (QS. Ghafir [40]: 60)
Ayat ini menunjukkan bahwa doa bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk ibadah, penghambaan, dan ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya. Akan tetapi, doa yang lahir dari hati yang ikhlas semestinya melahirkan perubahan dalam sikap dan perilaku. Jangan sampai lisan kita meminta petunjuk, sementara langkah kaki justru menjauhi jalan yang lurus. Jangan sampai tangan kita menengadah memohon keberkahan, tetapi tangan yang sama digunakan untuk melakukan kemaksiatan dan kezaliman.
Tentu, selain kita perlu berdoa, kita pun harus lebih memperbanyak Syukur dan Berzikir kepada-Nya. Dalam tradisi tasawuf, para salik—orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah—sering kali mengatakan bahwa semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin sedikit ia sibuk meminta dunia. Bukan karena mereka tidak membutuhkan pertolongan Allah, melainkan karena mereka merasa malu apabila setiap kali berjumpa dengan Tuhannya hanya datang membawa daftar permintaan.
Terdapat sebuah ungkapan yang sangat terkenal:
لَيْسَ الْعَارِفُ مَنْ كَثُرَتْ مَسْأَلَتُهُ، وَإِنَّمَا الْعَارِفُ مَنْ كَثُرَتْ مُشَاهَدَتُهُ
"Orang yang telah mengenal Allah bukanlah orang yang paling banyak meminta, tetapi orang yang paling banyak menghadirkan Allah dalam kesadarannya."
Ungkapan tersebut mencerminkan etos para sufi. Mereka tidak berhenti berdoa, tetapi semakin dekat kepada Allah, semakin banyak waktu mereka diisi dengan tasbih, tahmid, tahlil, dan zikir, hingga permintaan-permintaan pribadi menjadi semakin sedikit. Mereka merasa malu jika hubungan dengan Allah hanya diisi dengan daftar permintaan. Bukan karena kebutuhannya telah hilang, tetapi karena ia yakin Allah telah mengetahui seluruh isi hatinya sebelum lisannya sempat mengucapkannya.
Bukankah Allah sendiri menegaskan dalam firman-Nya:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd [13]: 28)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa ketenteraman hati tidak selalu datang karena seluruh permintaan kita telah dikabulkan. Ketenteraman justru lahir ketika hati dipenuhi dengan zikir kepada Allah. Sebab boleh jadi seseorang belum memperoleh apa yang ia minta, tetapi ia telah memperoleh sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu kedekatan dengan Dzat Yang Maha Mengabulkan.
Oleh karena itu, marilah kita menjaga keseimbangan dalam beribadah. Perbanyaklah berdoa, karena doa adalah perintah Allah. Perbanyaklah berikhtiar, karena ikhtiar adalah bukti kesungguhan doa kita. Dan jangan lupa memperbanyak zikir, tahmid, tasbih, dan syukur kepada Allah. Jangan sampai kita lebih pandai meminta daripada memuji, lebih sering mengeluh daripada bersyukur, dan lebih banyak mengingat kebutuhan kita daripada mengingat Tuhan yang memenuhi seluruh kebutuhan kita.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang lisannya basah dengan doa, tangannya giat bekerja, akalnya bersungguh-sungguh mencari jalan keluar, dan hatinya senantiasa hidup dengan zikir kepada-Nya.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَبِهِ وَ كَفَرَ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَاِئِقَ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَسَلَّمُ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً
أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
(Sumber: kemenag.go.id)
Lestari



