Ni Made Lifia Kristina Hidupkan Aksara Bali di Kalangan Generasi Muda, Dirikan Komunitas Semara Budaya

Ni Made Lifia Kristina, peserta Wirasena Youth Camp (WYC) 2026, berupaya menghidupkan kembali aksara Bali yang perlahan mulai ditinggalkan generasi muda di tanah kelahirannya. Gadis berusia 21 tahun ini mendirikan komunitas Semara Budaya, singkatan dari Sarang Belajar Aksara dan Budaya, pada 2025. 

Ni Made Lifia Kristina Hidupkan Aksara Bali di Kalangan Generasi Muda, Dirikan Komunitas Semara Budaya
Ni Made Lifia Kristina, peserta Wirasena Youth Camp (WYC) 2026, berupaya menghidupkan kembali aksara Bali yang perlahan mulai ditinggalkan generasi muda di tanah kelahirannya. Gadis berusia 21 tahun ini mendirikan komunitas Semara Budaya, singkatan dari Sarang Belajar Aksara dan Budaya, pada 2025. FOTO: Kemenpora

WARTASULUH.COM, BALI - Ni Made Lifia Kristina, peserta Wirasena Youth Camp (WYC) 2026, berupaya menghidupkan kembali aksara Bali yang perlahan mulai ditinggalkan generasi muda di tanah kelahirannya. Gadis berusia 21 tahun ini mendirikan komunitas Semara Budaya, singkatan dari Sarang Belajar Aksara dan Budaya, pada 2025. 

"Dari kecil saya memang dekat dengan aksara Bali. Saya sering ikut pelatihan dan pasraman. Namun, semakin dewasa, saya melihat aksara ini mulai ditinggalkan generasi muda karena dianggap tidak menarik, tidak relevan, bahkan tidak gaul jika digunakan sekarang," ungkap Ni Made Lifia Kristina, dikutip Wartasuluh.com dari laman Kemenpora.go.id, Senin (2/11/2026).

Melalui komunitas Semara Budaya, Ni Made Lifia Kristina mengajak anak-anak di sejumlah desa di Bali untuk kembali mengenal aksara dan budaya daerahnya melalui pelatihan rutin setiap bulan.

Bagi Lifia, aksara Bali bukan sekadar deretan simbol yang terpampang di papan nama jalan. Di balik setiap goresannya, tersimpan sejarah, filosofi, dan warisan budaya yang diwariskan para leluhur. Sayangnya, tidak sedikit anak muda yang kini tak lagi mengenali bentuk, cara membaca, apalagi memahami maknanya.

Keresahan itu mendorongnya untuk tidak sekadar menyayangkan keadaan, tetapi mengambil langkah nyata. Bersama teman-temannya, ia membangun ruang belajar agar aksara Bali tidak berhenti menjadi peninggalan masa lalu, melainkan tetap hidup dan dekat dengan keseharian generasi muda.

Lifia yang juga bekerja sebagai MC (Master of Ceremony) di Bali menyadari, mengajak anak muda mencintai budaya sendiri bukan perkara mudah. Karena itu, ia mencoba mencari pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan masa kini.

Salah satunya melalui pengalaman menjadi fasilitator di Rumah Anyar, sebuah tempat wisata yang mengenalkan budaya Bali kepada wisatawan asing. Di sana, Lifia mengajarkan pengunjung menulis aksara Bali, termasuk menuliskan nama mereka menggunakan aksara tradisional tersebut.

Baginya, pendekatan itu bisa menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan ketertarikan terhadap budaya lokal. Ketika aksara Bali diperkenalkan melalui pengalaman yang menyenangkan dan memiliki nilai praktis, anak muda diharapkan melihatnya bukan sebagai sesuatu yang kuno, melainkan sebagai keterampilan yang menarik untuk dipelajari.

Lifia berharap, ketertarikan yang awalnya muncul dari sektor pariwisata dapat berkembang menjadi kecintaan terhadap warisan budaya sendiri.

"Walaupun langkah awalnya dilihat sebagai peluang pekerjaan atau pariwisata, setidaknya akan ada lebih banyak generasi muda yang tertarik belajar aksara Bali," tutur Lifia yang juga coach public speaking ini.

Menurut Lifia, budaya Bali memiliki keterkaitan erat dengan sejarah yang diwariskan melalui lontar, yakni media tradisional yang menggunakan daun sebagai bahan tulis. Berbagai pengetahuan, tradisi, dan nilai kehidupan diwariskan melalui naskah-naskah tersebut.

Karena itu, mengenalkan aksara Bali juga menjadi upaya membuka kembali akses generasi muda terhadap kekayaan pengetahuan leluhur mereka.

Meski baru berjalan sekitar satu tahun, Semara Budaya menjadi langkah awal Lifia untuk membangun gerakan pelestarian budaya yang lebih luas. Sejauh ini, komunitas tersebut masih ia rintis secara mandiri bersama teman-temannya.

Melalui partisipasinya dalam Wirasena Youth Camp 2026, Lifia berharap dapat membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan di Bali, serta pihak-pihak yang memiliki perhatian terhadap pendidikan dan pengembangan kepemudaan.

Ia ingin Semara Budaya berkembang menjadi ruang belajar yang semakin mudah dijangkau anak-anak dan generasi muda.

Keikutsertaan Lifia dalam Wirasena Youth Camp 2026 bukan semata-mata untuk memperkenalkan program yang ia bangun. Pertemuan dengan pemuda dari berbagai daerah di Indonesia juga memberinya kesempatan untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.

Dalam sehari, ia bisa berkenalan dengan sekitar 20 orang dan mendengarkan kisah hidup yang beragam. Dari pertemuan tersebut, Lifia menyadari bahwa setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam membangun hubungan sosial dan menghadapi tantangan kehidupan.

Ia menceritakan, kehidupan sosial di Bali sangat lekat dengan semangat gotong royong. Ketika menghadapi kesulitan maupun merasakan kebahagiaan, masyarakat terbiasa saling membantu dan berjalan bersama.

Sementara itu, dari teman-teman yang berasal dari kota besar, ia belajar bahwa kemandirian juga menjadi bekal penting bagi anak muda untuk berkembang.

"Bali itu sangat erat dengan gotong royong. Kalau ada masalah, susah dan senang, semuanya bergandengan. Sedangkan dari teman-teman yang berasal dari kota, saya belajar bahwa kita juga harus memiliki semangat untuk bisa berjalan sendiri atau membangun kemandirian," katanya.

Pengalaman tersebut membuat Livia semakin memahami bahwa keberagaman bukan hanya tentang perbedaan budaya dan kebiasaan, tetapi juga kesempatan untuk saling belajar. Baginya, anak muda tidak harus meninggalkan nilai-nilai yang tumbuh di daerah asalnya untuk berkembang. Sebaliknya, mereka dapat membawa nilai tersebut sekaligus menyerap pelajaran baru dari lingkungan yang lebih luas.

Semangatnya, menjaga warisan budaya ternyata tidak berhenti pada aksara Bali. Ia juga memiliki ketertarikan besar terhadap dunia membaca dan literasi. Menurutnya, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga bagaimana seseorang memahami informasi serta menyikapinya secara kritis.

Ia berharap budaya membaca kembali tumbuh di kalangan generasi muda. Dengan kebiasaan membaca, anak muda diharapkan memiliki bekal lebih baik untuk memilah informasi, memeriksa kebenaran suatu kabar, dan tidak mudah terjebak hoaks.

Ke depan, Lifia ingin mengembangkan Semara Budaya agar tidak hanya menjadi ruang belajar aksara dan budaya Bali, tetapi juga berkembang menjadi komunitas membaca atau komunitas baca buku.

Baginya, pelestarian budaya dan penguatan literasi dapat berjalan beriringan. Keduanya sama-sama membuka ruang bagi generasi muda untuk belajar, memahami lingkungan, dan mengenali identitasnya.

Sepulang dari Wirasena Youth Camp 2026, Lifia berkomitmen melanjutkan program Semara Budaya di Bali. Ia juga ingin menerapkan berbagai pengalaman dan gagasan yang diperolehnya selama berinteraksi dengan peserta dari daerah lain. Ia berharap pengalaman mengikuti kegiatan berskala nasional itu dapat memperluas jejaring sekaligus membuka jalan bagi kolaborasi dengan pemangku kepentingan di daerahnya.

Bagi Lifia, Wirasena Youth Camp 2026 merupakan ruang belajar yang menghadirkan pengalaman lebih luas daripada sekadar materi dari narasumber atau fasilitator. Di tempat ini, sesama peserta juga menjadi sumber pengetahuan. Setiap pertemuan menghadirkan cerita, pengalaman, dan gagasan baru yang bisa dibawa pulang untuk diterapkan di daerah masing-masing.

"Tidak akan pernah ada ruginya mengikuti kegiatan seperti ini karena di sini layaknya laboratorium belajar. Tidak hanya belajar dari fasilitator dan narasumber, tetapi juga dari teman-teman yang mengikuti acara ini. Semuanya adalah guru, tempat ini adalah sekolah, dan semua pengalamannya menjadi pelajaran bagi kita,” ucap dara yang hobi membaca ini.

Lifia berharap Wirasena Youth Camp dapat terus diselenggarakan setiap tahun agar semakin banyak pemuda Indonesia berani mengambil kesempatan untuk belajar, bertukar pikiran, dan membangun kolaborasi lintas daerah.

Bagi perempuan muda asal Bali ini, perjalanan menjaga budaya leluhur masih panjang. Namun, ia percaya perubahan bisa dimulai dari langkah sederhana: mengenalkan kembali aksara Bali kepada anak-anak, membuka ruang belajar bersama, dan menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya sendiri. 

"Warisan budaya tidak cukup hanya dikenang atau dipajang. Ia perlu dipelajari, dipahami, dan diwariskan kembali agar tetap hidup di tangan generasi berikutnya," pungkasnya. (shd)