Diabetes dan Ancaman Tulang Keropos di Balik Kebiasaan Minum Serba Manis
WARTASULUH.COM- Minuman manis yang dikonsumsi berlebihan biasanya dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes. Dalam berbagai kampanye kesehatan, gula sering dikaitkan dengan lonjakan gula darah, resistensi insulin, dan kenaikan berat badan.
Pembahasan soal minuman manis seringkali berhenti di gula darah dan obesitas. Padahal, dampaknya jauh lebih luas. Tulang adalah salah satu organ yang paling jarang dikaitkan dengan konsumsi gula, meskipun secara biologis sangat terpengaruh oleh apa yang kita minum setiap hari. Berbagai penelitian terbaru mulai menunjukkan bahwa kebiasaan minum manis berlebihan ternyata bisa menyebabkan pengeroposan tulang.
Penyerapan Kalsium Terganggu oleh Asupan Gula Berlebih
Proses penyerapan kalsium agar optimal dari makanan sangat bergantung pada vitamin D dalam bentuk aktif. Vitamin D berperan sebagai kunci yang meningkatkan aktivitas protein pengikat kalsium di usus, sehingga kalsium masuk ke dalam sirkulasi darah dan digunakan untuk pembentukan tulang.
Konsumsi gula berlebih bisa mengganggu proses aktivasi vitamin D di dalam ginjal. Ginjal memiliki peran penting dalam mengubah vitamin D menjadi bentuk aktif yang siap digunakan tubuh. Hambatan pada proses ini menurunkan efektivitas vitamin D, sehingga kemampuan usus menyerap kalsium dari makanan menjadi tidak optimal, meskipun asupan kalsium dari makanan terlihat cukup.
Kondisi lain yang muncul akibat konsumsi gula berlebih menurut jurnal Nutrients tahun 2023 adalah hiperinsulinemia, yaitu kadar insulin yang tinggi di dalam pembuluh darah akibat lonjakan gula darah berulang.
Hiperinsulinemia bisa berdampak pada pengelolaan mineral di ginjal. Reabsorpsi kalsium di tubulus ginjal menjadi terhambat, sehingga lebih banyak kalsium yang dikeluarkan melalui urine atau dikenal sebagai hiperkalsiuria.
Situasi ini menempatkan tubuh dalam keadaan defisit kalsium yang sering tidak disadari. Asupan kalsium yang masuk berkurang, sementara tubuh tetap menjaga kadar kalsium dalam darah tetap normal.
Tubuh mempertahankan kadar kalsium darah dengan cara mengambil cadangan dari jaringan tulang. Mekanisme ini menjaga fungsi organ vital tetap berjalan normal, tetapi dilakukan dengan mengorbankan kepadatan tulang.
Proses tersebut berlangsung perlahan tanpa gejala awal yang jelas. Struktur tulang kehilangan mineral sedikit demi sedikit, hingga pada suatu saat tulang menjadi lebih rapuh dan rentan mengalami pengeroposan.
Hiperglikemia Menghambat Metabolisme Tulang
Lingkungan hiperglikemik memberi tekanan langsung pada sel pembentuk tulang atau osteoblas. Penelitian International Journal of Molecular Sciences tahun 2019 mengungkapkan kadar gula darah yang tinggi mengubah cara osteoblas bekerja sejak tahap awal diferensiasi hingga pematangan.
Perubahan ini terjadi melalui modifikasi ekspresi gen yang mengatur metabolisme sel tulang, sehingga kemampuan osteoblas membentuk jaringan tulang baru menjadi tidak optimal.
Pengaruh hiperglikemia tidak berhenti pada efek langsung tersebut. Kadar gula darah yang terus tinggi menciptakan lingkungan inflamasi kronis di dalam tubuh. Peradangan tingkat rendah ini memicu kematian osteoblas secara perlahan, membuat jumlah sel pembentuk tulang berkurang dari waktu ke waktu. Regenerasi tulang tetap berlangsung, tetapi kapasitas pembentukannya menurun.
Pada saat yang sama, sel osteoklas yang bertugas menghancurkan jaringan tulang lama justru menjadi lebih aktif dalam kondisi tinggi gula. Aktivitas osteoklas meningkat dan menjadi lebih agresif, sehingga proses perombakan tulang berlangsung lebih cepat dibanding pembentukan tulang baru.
Ketidakseimbangan ini menggeser metabolisme tulang ke arah kehilangan massa tulang secara progresif.
Kondisi tersebut membuat tulang berada dalam siklus yang merugikan. Jaringan lama dihancurkan lebih cepat, sementara jaringan pengganti terbentuk dengan kualitas yang lebih rendah. Kepadatan tulang menurun secara perlahan tanpa menimbulkan keluhan yang mudah dirasakan.
Proses ini menjelaskan mengapa konsumsi minuman manis dalam jangka panjang dapat berkontribusi pada pengeroposan tulang, meskipun asupan kalsium tampak mencukupi dan tidak ada keluhan nyeri pada tahap awal.
Pemanis dalam Makanan dan Minuman Mencuri Kalsium Tulang
Pemanis yang banyak digunakan dalam makanan dan minuman modern umumnya mengandung fruktosa. Fruktosa dimetabolisme terutama di hati dan menghasilkan peningkatan produksi asam urat. Kondisi ini mendorong terjadinya asidosis metabolik ringan, yaitu keadaan ketika lingkungan internal tubuh menjadi lebih asam dari kondisi ideal.
Tubuh memiliki mekanisme ketat untuk menjaga keseimbangan pH darah. Saat beban asam meningkat, sistem penyangga mineral diaktifkan. Ion kalsium dilepaskan dari jaringan tulang ke dalam darah untuk membantu menetralkan kelebihan asam dan mempertahankan homeostasis.
Proses ini tidak menimbulkan gejala langsung. Kadar kalsium darah tetap berada dalam rentang normal, tetapi cadangan kalsium dalam tulang berkurang sedikit demi sedikit. Frekuensi paparan fruktosa yang tinggi membuat tulang berulang kali digunakan sebagai sumber mineral penyangga.
Dalam jangka panjang, mekanisme kompensasi ini menyebabkan penurunan kepadatan tulang secara perlahan. Struktur tulang menjadi lebih rapuh, meskipun asupan kalsium dari makanan terlihat mencukupi.
Peradangan Sistemik Merusak Kolagen dan Fleksibilitas Tulang
Peradangan sistemik yang dipicu oleh asupan gula berlebih tidak hanya memengaruhi metabolisme energi, tetapi juga menyerang sendi dan jaringan ikat yang menempel pada tulang. Lonjakan gula darah setelah konsumsi minuman manis memicu pelepasan sitokin pro inflamasi ke dalam aliran darah, menciptakan lingkungan peradangan tingkat rendah yang berlangsung berulang.
Sitokin pro inflamasi berdampak langsung pada kolagen, yaitu protein struktural utama yang memberi fleksibilitas dan kekuatan pada tulang. Kolagen berfungsi sebagai rangka elastis tempat mineral tulang menempel.
Kerusakan kolagen membuat struktur tulang kehilangan kemampuan menyerap tekanan dan benturan secara optimal.
Tulang yang kehilangan fleksibilitasnya tidak lagi bersifat lentur. Struktur menjadi lebih kering dan rapuh, sehingga risiko retak dan patah meningkat meskipun benturan tergolong ringan. Kondisi ini sering tidak disadari karena kepadatan mineral tulang masih tampak normal pada tahap awal, sementara kualitas strukturnya telah menurun.
Peradangan kronis yang terus dipelihara oleh konsumsi gula berlebih akhirnya mempercepat proses kerapuhan tulang. Kerusakan terjadi bukan hanya pada mineralnya, tetapi juga pada fondasi protein yang menjaga tulang tetap kuat dan tahan tekanan.


Khaliza 



