Kualitas Udara Pekanbaru Sangat Tidak Sehat, Pemko Perpanjang Pembelajaran Jarak Jauh Siswa PAUD hingga SMP hingga 10 Oktober 2026
Kualitas Udara Pekanbaru Sangat Tidak Sehat, Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru memperpanjang penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi peserta didik tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat hingga Sabtu (10/10/2026).
WARTASULUH.COM, PEKANBARU - Kualitas Udara Pekanbaru Sangat Tidak Sehat, Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru memperpanjang penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi peserta didik tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat hingga Sabtu (10/10/2026).

Keputusan itu diambil setelah Pemko Pekanbaru menggelar rapat bersama sejumlah pihak terkait untuk membahas perkembangan kondisi kabut asap di Kota Pekanbaru, Rabu (7/10/2026), di Komplek Perkantoran Pemerintah Tenayan Raya.
Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar mengatakan, perpanjangan PJJ dilakukan dengan mempertimbangkan informasi dan parameter kualitas udara dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).
"Kita tentu menerima masukan dan informasi, pertama dari BMKG, kemudian DLHK. Kondisi udara kita di Pekanbaru hari ini dalam kondisi sangat tidak sehat, dan ada tiga parameter, tiga-tiganya menunjukkan kondisi sangat tidak sehat. Dan tadi jam 13.00 WIB itu sampai ke posisi berbahaya," kata Markarius, Kamis (6/10/2026).
Menurutnya, kondisi kualitas udara tersebut menjadi perhatian serius karena telah berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Markarius menyebut, hingga saat ini lebih dari 10.000 orang telah mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan paparan asap.
Keluhan yang muncul antara lain asma, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi hingga pneumonia.
Bahkan, pada 7 Oktober 2026 tercatat sebanyak 374 pasien mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan dampak kabut asap dalam sehari.
"Yang sudah terpapar sampai hari ini sudah lebih 10.000 orang ya yang terkait dengan asap ini; asma, ISPA, iritasi, pneumonia. Kemudian yang tertinggi kemarin 7 Oktober itu, pasien kita terkait dengan hal ini 374," ujarnya.
Melihat kondisi tersebut, Pemko Pekanbaru memilih melanjutkan PJJ sebagai langkah untuk mengurangi risiko paparan kualitas udara buruk terhadap peserta didik.
"Yang pertama, kita akan melanjutkan pembelajaran jarak jauh, lanjutannya selanjutnya sampai hari Sabtu," ungkap Markarius.
Selanjutnya, Pemko Pekanbaru akan mengevaluasi kembali kondisi udara pada Minggu (11/10/2026). Evaluasi akan mempertimbangkan perkembangan kualitas udara dan kondisi cuaca, termasuk potensi hujan yang diprakirakan BMKG.
Markarius mengatakan, BMKG memprakirakan adanya potensi hujan pada Sabtu (10/10/2026). Hujan diharapkan dapat membantu memperbaiki kondisi kualitas udara di Pekanbaru.
"Tadi dari BMKG, potensi hujan itu tanggal 10. Tanggal 10 itu hari Sabtu ya. Mudah-mudahan Allah berikan hujan. Kalau potensi hujannya memang turun tanggal 10, mungkin akan ada perubahan kondisi cuaca kita, kondisi udara kita," jelasnya.
Ia menegaskan, kebijakan pembelajaran selanjutnya akan ditentukan berdasarkan hasil evaluasi kondisi udara. "Jadi PJJ ini sampai hari Sabtu dulu, nanti hari Minggu kita akan evaluasi kembali," pungkasnya.
Berdasarkan pantauan Wartasuluh.com di laman BMKG, Kualitas udara dengan konsentrasi partikulat (PM2.5) di Pekanbaru pada Kamis (6/10/2026) pukul 04.00 WIB, Sangat Tidak Sehat dengan konsentrasi partikulat 215,5 µm (mikrometer).
Sedangkan visibility (jarakpandang) pada Rabu (7/10/2026) pukul 16.00 WIB di Pekanbaru hanya mencapai 2.2 KM (Asap), Rengat 500 M (Asap), Pelalawan 2 KM (Asap) dan Tambang 3 KM (Asap). (shd)



Lestari



