Kualitas Udara Pekanbaru 6 September 2026 Tidak Sehat, 191 Titik Panas Menyala di Riau, 706 Orang Terdampak ISPA
Kualitas Udara Pekanbaru 6 September 2026 Tidak Sehat hingga pukul 05.00 WIB dengan Konsentrasi Partikulat (PM2.5) 87 µg/m3. Sebanyak 191 titik panas (hotspot) menyala di Provinsi Riau, terbanyak di Kabupaten Indragiri Hulu 76 titik panas, berdasarkan Update Info Hotspot Riau BMKG pada 5 September 2026 pukul 16.00 WIB.
WARTASULUH.COM, PEKANBARU - Kualitas Udara Pekanbaru 6 September 2026 Tidak Sehat hingga pukul 05.00 WIB dengan Konsentrasi Partikulat (PM2.5) 87 µg/m3. Sebanyak 191 titik panas (hotspot) menyala di Provinsi Riau, terbanyak di Kabupaten Indragiri Hulu 76 titik panas, berdasarkan Update Info Hotspot Riau BMKG pada 5 September 2026 pukul 16.00 WIB.
Dikutip Wartasuluh.com dari laman Bmkg.go.id, Minggu (6/9/2026), Kualitas Udara Pekanbaru Tidak Sehat sejak pukul 00.00 WIB dengan Konsentrasi Partikulat 104,2 µg/m³, pukul 01.00 WIB sebesar 86,6 µg/m³, pukul 02.00 WIB sebesar 61,8 µg/m3, pukul 03.00 WIB sebesar 69,1 µg/m3, pukul 04.00 WIB sebesar 82,3 dan pukul 05.00 WIB sebesar 87 µg/m3 µg/m3.
Particulate Matter (PM2.5) adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari atau sama dengan 2,5 µm (mikrometer).
Pengukuran konsentrasi PM2.5 menggunakan metode penyinaran sinar beta (Beta Attenuation Monitoring) dengan satuan mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Sementara itu, Prakirawan BMKG Pekanbaru Yasir P, mengatakan, terdapat 191 titik panas berdasarkan Update Info Hotspot Riau Sore BMKG pada 5 September 2026 pukul 16.00 WIB, yang tersebar di Kabupaten Indragiri Hulu 76 titik panas, Indragiri Hilir 42 titik panas, Siak 38 titik panas, Kepulauan Meranti 9 titik panas, Kota Dumai 7 titik panas, Bengkalis dan Rokan Hulu masing-masing 5 titik panas, Kuantan Singingi 4 titik panas, dan Rokan Hilir 1 titik panas.
Akibatnya, jarak pandang atau Visibility Update 5 September pukul 16.00 WIB di Pekanbaru 3.5 KM (Asap), Rengat 5 KM (Asap), Pelalawan 5 KM (Asap) dan Tambang 4 KM (Asap).
"Total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera 2.253 titik panas yang tersebar di Provinsi Sumatera Selatan 1.379 titik panas, Kepulauan Bangka Belitung 200 titik panas, Riau 191 titik panas, Jambi 188 titik panas, Lampung 145 titik panas, Kepulauan Riau 55 titik panas, Sumatera Barat 39 titik panas, Bengkulu 36 titik panas, Aceh 11 titik panas, dan Sumatera Utara 9 titik panas," ungkap Yasir P, Sabtu (5/9/2026) sore.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru mencatat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga dua kali lipat di tengah bencana kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Riau, Kamis (3/9/2026).
Rata-rata kasus harian yang sebelumnya berada di angka 100 pasien per hari, kini melonjak drastis hingga menyentuh kisaran 300 kasus setiap harinya.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, Dedy Sambudi, mengonfirmasi lonjakan signifikan tersebut saat memberikan keterangan resmi kepada awak media di Pekanbaru. Ia mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya paparan kabut asap mengingat kualitas udara setempat yang masih berfluktuasi.
"Ada peningkatan kasus ISPA, dua kali lipat peningkatan kita hitung rata-ratanya per hari," kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, Dedy Sambudi.
Berdasarkan data akumulatif Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, sebanyak 706 warga terkonfirmasi menderita ISPA sepanjang berstatus masa tanggap darurat Karhutla. Jumlah tersebut menjadikan ISPA sebagai gangguan kesehatan mendominasi yang paling banyak menginfeksi warga setempat.
Selain gangguan pernapasan, penurunan kualitas udara akibat asap Karhutla juga memicu timbulnya berbagai keluhan kesehatan fisik lainnya pada warga. Pihak dinas kesehatan mencatat adanya belasan hingga puluhan kasus iritasi kulit, asma, konjungtivitis, dan pneumonia.
"Dari data tersebut, didapati pula, warga bukan hanya terkena ISPA karena kualitas udara yang memburuk akibat kebakaran lahan. Namun ada juga yang mengalami iritasi kulit," kata Dedy Sambudi.
"Disebutkannya, jumlah warga yang terkena iritasi kulit sebanyak 33 orang. Ada juga yang mengalami asma sebanyak 23 orang. Ada juga warga yang mengalami pneumonia sebanyak lima orang. Lalu ada juga yang mengalami konjungtivitis atau mata merah sebanyak 15 orang," tambah Dedy.
Secara keseluruhan, Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru menegaskan bahwa lonjakan berbagai komplikasi penyakit tersebut berbanding lurus dengan paparan kabut asap Karhutla. Pihaknya terus memantau perkembangan kesehatan masyarakat dan menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh wilayah kota Pekanbaru. (shd)



Lestari



