Aira Sachi Nabira Siswi Kelas XII MAN 4 Jakarta Berprestasi dan Peduli Lingkungan
Bagi Aira Sachi Nabira, persoalan lingkungan adalah tantangan nyata yang perlu dipahami dan dihadapi, termasuk oleh generasi muda Indonesia. Dari minatnya untuk menaruh perhatian terhadap isu lingkungan dan iklim, siswi kelas XII MAN 4 Jakarta ini berupaya menjadikan kepeduliannya terhadap lingkungan sebagai langkah konkret untuk masa depan yang bersih dan berkelanjutan.
WARTASULUH.COM, JAKARTA - Bagi Aira Sachi Nabira, persoalan lingkungan adalah tantangan nyata yang perlu dipahami dan dihadapi, termasuk oleh generasi muda Indonesia. Dari minatnya untuk menaruh perhatian terhadap isu lingkungan dan iklim, siswi kelas XII MAN 4 Jakarta ini berupaya menjadikan kepeduliannya terhadap lingkungan sebagai langkah konkret untuk masa depan yang bersih dan berkelanjutan.
Ketertarikan Aira terhadap isu lingkungan bermula ketika ia membaca hasil survei Yale University mengenai perubahan iklim. Ia menemukan angka yang membuatnya prihatin: sekitar 70 persen remaja Indonesia disebut tidak mengetahui apa itu perubahan iklim dan berbagai persoalan lingkungan lainnya.
“Menurut aku itu angka yang sangat besar. Kalau misalnya kita sebagai remaja Indonesia itu enggak mulai melakukan pergerakan dalam mengubah pola aktivitas kita, itu akan memberikan dampak yang sangat besar nantinya,” ujar Aira, dikutip Wartasuluh.com dari laman Kemenag.go.id, Kamis (15/10/2026).
Temuan tersebut menjadi salah satu titik awal yang membentuk perhatian Aira terhadap lingkungan. Ia menyadari bahwa persoalan iklim tidak cukup hanya dibicarakan oleh para ahli, peneliti, atau pembuat kebijakan. Generasi muda juga perlu urun rembuk memahami persoalannya dan mengambil bagian dalam perubahan, dimulai dari kebiasaan sehari-hari hingga upaya mencari solusi melalui penelitian.
Bagi Aira, kepedulian itu perlu diterjemahkan menjadi pengetahuan dan tindakan. Karena itu, ia banyak ikut kompetisi yang berkaitan dengan lingkungan dan iklim dan aktif menekuni riset serta memanfaatkan ruang media sosial untuk berbagi informasi bagi anak muda.
Rutin Ikuti Lomba
Sebagai siswi program Cambridge yang memiliki minat pada bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), Aira aktif mengembangkan kemampuan akademik dan penelitiannya. Ia mengikuti Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) di sekolah dan berpartisipasi dalam berbagai kompetisi, mulai dari tingkat nasional hingga internasional.
Salah satu pengalaman risetnya adalah ketika ia bersama temannya, Keisha, mempresentasikan penelitian berjudul “Blended Finance Strategies of the Energy Transition Mechanism to Accelerate the Green Energy Transition in Indonesia” dalam ajang Global Youth Invention and Innovation Fair (GYIIF) 2025 di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Penelitian tersebut mengeksplorasi strategi pembiayaan transisi energi hijau di Indonesia melalui pendekatan blended finance, yakni penggabungan berbagai sumber pembiayaan untuk mendukung proyek pembangunan. Topik ini mempertemukan perhatian Aira terhadap lingkungan dengan persoalan ekonomi dan kebijakan publik.
Belasan lomba telah ia ikuti, tentu dengan minatnya selama ini, yaitu isu lingkungan. Pada 2024, ia meraih Juara I Lomba Peneliti Belia Banten bidang Ekonomi, Juara II Lomba Peneliti Belia Nasional, serta medali emas Indonesia International Applied Science Project Olympiad (I2ASPO).
Prestasinya berlanjut pada 2025. Aira meraih medali emas ASEAN Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair (AISEEF), Gold Medal and Taiwan Special Award Global Sustainability Innovation Competition (GSIC) 2025, Gold Medal Indonesia Inventors Day (IID) 2025, serta Silver Medal Jakarta International Science Fair (JISF) 2025. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh Gold Medal and MYSO Special Award Global Youth Invention and Innovation Fair (GYIIF) 2025.
Selain kompetisi riset sains, Aira meraih Juara II tingkat nasional dalam lomba esai bertema “200 Tahun Perang Jawa” yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Aira mengangkat isu literasi dan krisis iklim dalam bingkai sejarah perjuangan. Deretan prestasi tersebut memperlihatkan kemampuannya mengeksplorasi beragam persoalan melalui penelitian dan penulisan.
Berbagi Pengalaman di Media Sosial
Kepedulian Aira terhadap lingkungan tidak berhenti di ruang kompetisi. Ia juga mendirikan akun Instagram @climact.id sebagai ruang untuk membangun kesadaran generasi muda mengenai perubahan iklim.
Melalui platform tersebut, Aira ingin mengajak anak muda memahami persoalan lingkungan sekaligus melihat peluang untuk terlibat dalam aksi nyata. Visinya adalah membangun generasi muda Indonesia yang sadar, peduli, dan aktif menghadapi perubahan iklim demi masa depan yang berkelanjutan dan ekonomi hijau.
Di tengah derasnya arus informasi digital, langkah ini menjadi cara Aira menyampaikan isu lingkungan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian anak muda. Ia ingin persoalan yang kerap dianggap rumit dapat dipahami lebih mudah dan tidak berhenti sebagai pengetahuan semata.
Menariknya, akun media sosial yang ia kelola tidak hanya membahas isu iklim. Aira juga membagikan berbagai informasi pendidikan lewat akun Instagramnya: studywithsachi, seperti kiat memperoleh skor IELTS tinggi, tips masuk sekolah impian, hingga soal latihan tes dan skolastik. Ia turut berbagi pengalaman selama bersekolah di MAN 4 Jakarta.
Bagi Aira, ruang digital dapat dimanfaatkan untuk beragam hal sekaligus: menyebarkan pengetahuan, berbagi pengalaman, dan membangun komunitas yang memiliki minat serupa. Dengan begitu, media sosial tidak hanya menjadi tempat menunjukkan pencapaian, tetapi juga ruang untuk saling belajar.
Kemampuannya berbahasa Inggris juga menjadi salah satu bekal yang ia persiapkan untuk melanjutkan pendidikan. Aira telah meraih skor IELTS Band 8.0, capaian yang mendukung rencananya melanjutkan studi ke luar negeri.
Menulis Cerita tentang Pilihan Masa Depan
Di balik kesibukannya meneliti dan mengikuti kompetisi, Aira memiliki sisi lain sebagai penulis. Ia menulis novel berjudul Sachi dan Dua Menara Mimpi, sebuah kisah yang berangkat dari dilemanya memilih antara dua sekolah, SMA Taruna Nusantara atau MAN 4 Jakarta.
Novel tersebut menggambarkan pergulatan seorang remaja dalam menentukan jalan hidupnya. Pilihan sekolah yang semula terlihat sederhana berkembang menjadi perjalanan untuk memahami ambisi, keluarga, persahabatan, dan keberanian mengambil keputusan.
Dalam epilognya, novel itu merangkum pesan yang dekat dengan pengalaman banyak anak muda: menentukan masa depan bukan sekadar memilih sekolah, melainkan belajar memiliki keputusan atas hidup sendiri. Di buku tersebut terangkum proses pencarian, pertimbangan, dan keberanian menentukan pilihan yang menyertainya.
Di usianya yang masih remaja, Aira berusaha menyeimbangkan berbagai minat, mulai dari riset, menulis, hingga kegiatan edukasi di media sosial. Semua itu menjadi bagian dari prosesnya mengenali potensi diri dan menentukan arah masa depan.
Menatap Kampus dan Masa Depan Energi Bersih
Kini, Aira mulai mempersiapkan langkah berikutnya. Ia berencana mendaftar ke sejumlah perguruan tinggi, antara lain University of Toronto di Kanada, National University of Singapore (NUS), dan Nanyang Technological University (NTU) di Singapura.
Kunjungan sejumlah menteri, di antaranya Menko PMK Sugiono, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Mendiktisaintek Brian Yuliarto ke MAN 4 Jakarta juga memberinya perspektif baru mengenai pilihan kampus yang dapat ia pertimbangkan. Ia mengaku mendapat dorongan untuk mencoba mendaftar ke perguruan tinggi lain, termasuk Harvard University.
“Aku mau nyoba awalnya ke University of Toronto (UofT) dan juga NUS dan NTU, tapi dari beberapa bapak menteri tadi itu mendorong aku untuk coba ke Harvard dan juga sekolah-sekolah lain karena nilai esai aku lumayan memuaskan,” katanya.
Untuk bidang studi, Aira mempertimbangkan Environmental Engineering atau Energy Engineering. Pilihan tersebut sejalan dengan ketertarikannya terhadap persoalan lingkungan, energi bersih, dan keberlanjutan.
Dalam perjalanan itu, Aira juga merasakan dukungan dari lingkungan sekolah. Ia menyebut guru, staf, dan teman-temannya memberikan ruang baginya untuk berkembang, baik dalam kegiatan akademik maupun nonakademik.
“Guru-gurunya, stafnya dan juga teman-temannya itu sangat mendukung aku dalam melakukan hal-hal di luar sekolah ataupun baik akademik maupun non-akademik. Dan guru-gurunya itu selalu ngesupport untuk ikut lomba atau enggak ikut riset-riset di luar sekolah juga,” tuturnya.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang pelajar yang ingin mengeksplorasi minat di luar kegiatan belajar di kelas. Kesempatan mengikuti lomba memberinya pengalaman untuk menguji gagasan, berkolaborasi, dan berhadapan dengan tantangan baru.
Kisah Aira juga memperlihatkan bagaimana madrasah dapat menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda dengan beragam potensi. Di tengah tantangan perubahan iklim dan kebutuhan akan transisi energi, literasi lingkungan, penguasaan sains, dan kemampuan berpikir kritis semakin relevan untuk dipersiapkan sejak bangku sekolah.
Bagi Aira, perjalanan hidupnya masih panjang. Kampus tujuan belum ditetapkan dan cita-cita di bidang lingkungan masih akan terus berkembang. Namun, satu hal telah menjadi pijakannya: keresahan terhadap persoalan iklim dapat menjadi awal untuk belajar, meneliti, dan mengambil tindakan.
Buatlah semua menyenangkan, Sachi! (kha)



Lestari



